Ramadhan sebentar lagi akan kita lewati dan kita memasuki suatu hari yang disebut hari kemenangan. Adalah sangat wajar jika banyak orang yang mengatakan bahwa ini adalah hari kemenangan, dimana sesuai dengan namanya disebut hari kembali ke fitrah. Fitrah berarti kita kembali seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Ampunan dari Allah سبحانه وتعالى dan maaf dari sesama mudah-mudahan sudah kita dapatkan. Namun ini bukanlah suatu akhir sebab kita masih diberikan umur panjang untuk menjalani hidup selanjutnya.
Kita tidak perlu takut dan waswas dalam menghadapi masa depan. Kerikil tajam, bukit terjang, serta godaan hawa nafsu yang pasti akan mengiringi langkah kita. Justru setelah kita melalui hari lebaran ini, harus membuat kita berjalan lebih mantap. Ingatlah artikel sebelumnya yang menyebutkan bahwa Ramadhan adalah momentum perubahan. Artinya kita sudah berubah, entah besar atau kecil, jika kita menjalani ibadah shaum dengan baik, pasti ada perubahan positif dalam diri kita.
Hari Raya Idul Fitri adalah momen kembali ke titik nol. Momen untuk mengambil langkah-langkah baru demi keberhasilan kita dimasa mendatang. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu berpikir benar-benar dari nol. Kita susun langkah seolah tidak ada beban dipundak kita. Kini saatnya kita mengambil langkah yang seharusnya kita ambil sejak dulu. Kini kita saatnya melepaskan apa yang seharusnya kita tinggalkan sejak dulu. Semua ini karena kita memang sudah lepas dari masa lalu menuju masa depan yang lebih gemilang. Yang tersisa dari masa lalu hanyalah hikmah yang akan menjadi bekal kita menapaki jalan yang akan kita tempuh.
Hari Raya Idul Fitri adalah momen kembali ke titik nol. Momen untuk mengambil langkah-langkah baru demi keberhasilan kita dimasa mendatang. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu berpikir benar-benar dari nol. Kita susun langkah seolah tidak ada beban dipundak kita. Kini saatnya kita mengambil langkah yang seharusnya kita ambil sejak dulu. Kini kita saatnya melepaskan apa yang seharusnya kita tinggalkan sejak dulu. Semua ini karena kita memang sudah lepas dari masa lalu menuju masa depan yang lebih gemilang. Yang tersisa dari masa lalu hanyalah hikmah yang akan menjadi bekal kita menapaki jalan yang akan kita tempuh.
Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrah (kesucianya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, dan rizqi yang dimiliki telah dicuci dengan zakat, dan jika antara sesama telah saling memaafkan maka baru dapat dikatakan kembali kepada kesucian dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri, manusia yang taat pada takdir Allah سبحانه وتعالى meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan "terlahir kembali".
Idul Fitri bukanlah suatu yang akhir, masih akan ada perjuangan yang harus dilalui sesudahnya. Seperti yang pernah diisyaratkan Rasulullah seusai perang Badr di akhir Ramadhan. Bahwa, dari perang kecil (Badr) ini, masih ada perang yang lebih besar untuk mengekang hawa nafsu dalam menegakkan syariat islam dengan benar. Sabda Rasulullah : الدين النصيحة , Arti nasehat bukan sekadar membimbing dengan kata-kata, tetapi menunjukkan serta mendukung segala kebajikan dengan amal perbuatan, tidak hanya memberi contoh tapi mampu sebagai contoh, sehingga pemberi nasihat mengantar orang yang dinasihati kepada suasana keterbukaan, tenggang rasa, serta insyaf bahwa kebutuhan manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan bantuan orang lain. Jika hal ini terwujud maka akan tercipta ukhuwah yang kuat dalam hubungan antar manusia.
Kita memang masih boleh melanjutkan apa yang sudah kita mulai sejak lama. Tetapi bukan karena harus melanjutkan, kita melanjutkan apa yang sudah kita lakukan karena keputusan baru, atas petimbangan kita saat ini. Apakah yang kita lakukan ini harus kita lanjutkan atau tidak? Bukan…, bukan karena Anda harus melanjutkan. Andalah yang menentukan, bukan pekerjaan Anda, bukan bisnis Anda, bukan siapa pun.
Kita sudah berubah menjadi lebih baik, baik dari segi ruhiah, fikriah, maupun jasadiah melalui Ramadhan yang baru saja kita lalui. Kita juga sudah terlepas dari beban masa lalu. Kita juga sudah mendapatkan bekal berupa hikmah dari guru yang bijaksana (pengalaman kita). Maka kini saatnya kita melangkah maju ke depan untuk meraih masa depan yang gemilang.
Akhirnya kita berharap agar Idul Fitri 1432 Hijriah tahun ini, di samping dirayakan secara masif yang hanya satu kali dalam setahun, akan dapat menyadarkan kita semua agar secara bertahap memahamii hakikat Idul Fitri sehingga buah yang didapat adalah kemenangan sejati, bukan capaian spiritual yang dangkal dan tuna-makna. Semoga roda sejarah modern Indonesia akan bergerak menuju kepribadian yang tangguh bermartabat sebagai hasil dari pencarian sebuah makna spiritual yang terdalam. Mari Kita jadikan Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم sebagai contoh terbaik dalam membina akhlak yang mulia dan berbudi luhur. Insya Allah kita akan disayangi dan dihormati sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dicintai oleh para sahabat dan seluruh umat Islam karena keluhuran budi pekerti yang dimilikinya.
0 Comments
Rizki atau rejeki bukanlah kata yang asing yang terasa janggal di telinga kita. Kata ini sering disebut-sebut dalam sebuah perbincangan atau saat orang bicara tentang kebutuhan hidup. Rizki bukan hanya berarti bagi kelangsungan hidup umat manusia, tapi juga sangat penting bagi kelangsungan makhluk hidup lainnya. Itulah sebabnya mengapa kata ini disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 112 kali dalam 41 surat. Dan inilah simbol kepedulian Allah SWT tentang pentingnya rizki.Wujud kepedulian itu tidak hanya sebatas menyinggung, bahkan secara gamblang dalam Al-Qur'an Allah SWT menyerukan manusia untuk bekerja dan berusaha : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S Al-Jumu’ah : 10)
Dapat disimpulkan bahwa ada satu pesan mendasar yang terkandung dalam konsep rizki, yakni syariat untuk bekerja. Rizki tidak mungkin didapat tanpa sebuah usaha atau kerja. Itulah sebabnya mengapa Allah menyediakan bumi ini sebagai ladang kerja untuk menghasilkan rizki.
Sayangnya, oleh sebagian orang, syariat ini telah diselewengkan. Usaha atau kerja tidak lagi ditafsirkan sebagai semata-mata usaha yang hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Tapi usaha dan kerja telah diartikan sebagai sesuatu yang harus menghasilkan. Buntutnya, ketika usaha dan kerja tidak menghasilkan rizki, perasaan galau, kecewa dan frustasi menjadi bagian yang tak terhindarkan.
Mencari yang haram aja susah-apalagi yang halal” sebagian orang mengatakan demikian. Kadang mereka katakan sebagai dalih mereka untuk melegalkan usaha mereka dari sumber penghasilan yang haram atau subhat.
Bahkan, ada kalanya manusia nekad melakukan tindakan bunuh diri hanya karena tidak bisa mengantisipasi perasaan kecewa atau jenuh menjalani hidup, tanpa usaha atau pekerjaan yang jelas. Untuk itu, dalam konteks mendapatkan rizki, kerja harus dipahami sebagai sebuah wasilah atau media. Usaha itulah yang akan membawa manusia kepada rizki yang telah digariskan Tuhan untuknya. Namun, usaha dan kerja sama sekali bukanlah suatu jaminan bahwa rizki yang telah ditetapkan Allah akan diperoleh.
Yang lebih mendasar lagi, sudah sepatutnya manusia berpikir tentang asal-muasal rizki. Dari mana ia datang, siapa yang memberikannya, dan dengan cara apa ia mendapatkannya ? Jika manusia menyadari akan hal ini, maka akan timbul satu kesadaran bahwa bila tidak karena kemurahan Yang Maha Pemberi, mungkin kata-kata tentang rizki tidak akan pernah ada.
Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman, “Katakanlah : “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yng dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa saja yang dikehendaki-Nya) Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi Rizi yang sebaik-baiknya.” (Q.S Al-Saba : 39)
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah-lah sebaik-baiknya pemberi rizki. Karena itu, hendaknya manusia tidak menyekutukan-Nya dengan mengatakan rizki itu berasal dari sesuatu selain Allah. Juga, jangan ada anggapan bahwa ritual ibadah seperti shalat, akan menyebabkan rizki seseorang berkurang. Demikian pula halnya anggapan bahwa memberikan rizki untuk zakat, menyebabkan rizki kelak akan berkurang.
Setelah disadarkan bahwa sumber rizki itu adalah Allah, maka bagi orang yang beriman, Allah adalah orientasi kegiatan manusia dalam upaya memperoleh penghidupan. Di hadapan Allah, semua makhluk dan semua manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan rizki.
Meski semua hamba mendapatkan rizki dari Allah, tapi rizki yang diberikan itu tidak sama dalam ukuran dan takarannya. Allah berhak melebihkan rizki untuk seseorang dan berhak pula menguranginya dari yang lain. Semuanya itu tergantung kepada keadilan Allah dan kerja keras manusia sebagai sunatullah yang telah ditetapkan.
Namun, karena setiap rizki yang diperoleh selalu terjadi dalam ruang lingkup sosial, maka Al-Quran menentukan bahwa dalam setiap kelebihan rizki terdapat hak bagi golongan miskin, lemah dan tertinggal. Hak-hak mereka tersebut dibakukan Allah dalam konsep zakat, sedekah, dan infak.
Sebagai bahan acuan agar tidak tergelincir saat mendapatkan rizki, hendaknya manusia tidak ngoyo dengan menghalalkan segala cara. Mereka harus ingat, setiap makhluk hidup telah mendapatkan rizki masing-masing. Bila kesadaran ini telah tertanam, mereka akan mampu mengontrol sikap dan perilakunya, terutama saat menghasilkan rizki dalam dunia kerja.
Lebih dari itu, mereka pun akan selalu menjaga hak-hak Allah yang dikongkretkan dalam bentuk ritual shalat, zakat, pergi haji dan yang lainnya. Mereka menyadari, dalam setiap rizki yang diberikan terdapat dua pilihan yang mesti diambil, bersukur atau kufur.
Dengan mensyukuri nikmat, secara tidak langsung dan tanpa disadari manusia tengah berada dalam proses mendapatkan rizki yang semakin banyak. Dengan kata lain, semakin banyak manusia bersyukur, maka semakin bertambah pula rizki yang didapat. Hal itu tercermin pada kemudahan-kemudahan dalam mengembangkan usaha, mengeliminir kerugian, dan tambahan berkah pada rizki telah didapatkan.
Ketentuan demikian bukan hanya slogan semata, namun Allah telah memberikan ‘garansi’ yang tertuang jelas dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu meningkari (nikmat-Ku), maka sesungghunya azab-Ku sangat pedih“.
Namun sebaliknya, bila manusia tidak mampu bersyukur (Kufur Nikmat), maka Allah telah menyiapkan baginya siksaan yang amat pedih. Sanggupkah kita untuk menerimanya ... ???
والله أعلم بالصوابDapat disimpulkan bahwa ada satu pesan mendasar yang terkandung dalam konsep rizki, yakni syariat untuk bekerja. Rizki tidak mungkin didapat tanpa sebuah usaha atau kerja. Itulah sebabnya mengapa Allah menyediakan bumi ini sebagai ladang kerja untuk menghasilkan rizki.
Sayangnya, oleh sebagian orang, syariat ini telah diselewengkan. Usaha atau kerja tidak lagi ditafsirkan sebagai semata-mata usaha yang hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Tapi usaha dan kerja telah diartikan sebagai sesuatu yang harus menghasilkan. Buntutnya, ketika usaha dan kerja tidak menghasilkan rizki, perasaan galau, kecewa dan frustasi menjadi bagian yang tak terhindarkan.
Mencari yang haram aja susah-apalagi yang halal” sebagian orang mengatakan demikian. Kadang mereka katakan sebagai dalih mereka untuk melegalkan usaha mereka dari sumber penghasilan yang haram atau subhat.
Bahkan, ada kalanya manusia nekad melakukan tindakan bunuh diri hanya karena tidak bisa mengantisipasi perasaan kecewa atau jenuh menjalani hidup, tanpa usaha atau pekerjaan yang jelas. Untuk itu, dalam konteks mendapatkan rizki, kerja harus dipahami sebagai sebuah wasilah atau media. Usaha itulah yang akan membawa manusia kepada rizki yang telah digariskan Tuhan untuknya. Namun, usaha dan kerja sama sekali bukanlah suatu jaminan bahwa rizki yang telah ditetapkan Allah akan diperoleh.
Yang lebih mendasar lagi, sudah sepatutnya manusia berpikir tentang asal-muasal rizki. Dari mana ia datang, siapa yang memberikannya, dan dengan cara apa ia mendapatkannya ? Jika manusia menyadari akan hal ini, maka akan timbul satu kesadaran bahwa bila tidak karena kemurahan Yang Maha Pemberi, mungkin kata-kata tentang rizki tidak akan pernah ada.
Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman, “Katakanlah : “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki bagi siapa yng dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa saja yang dikehendaki-Nya) Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi Rizi yang sebaik-baiknya.” (Q.S Al-Saba : 39)
Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah-lah sebaik-baiknya pemberi rizki. Karena itu, hendaknya manusia tidak menyekutukan-Nya dengan mengatakan rizki itu berasal dari sesuatu selain Allah. Juga, jangan ada anggapan bahwa ritual ibadah seperti shalat, akan menyebabkan rizki seseorang berkurang. Demikian pula halnya anggapan bahwa memberikan rizki untuk zakat, menyebabkan rizki kelak akan berkurang.
Setelah disadarkan bahwa sumber rizki itu adalah Allah, maka bagi orang yang beriman, Allah adalah orientasi kegiatan manusia dalam upaya memperoleh penghidupan. Di hadapan Allah, semua makhluk dan semua manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan rizki.
Meski semua hamba mendapatkan rizki dari Allah, tapi rizki yang diberikan itu tidak sama dalam ukuran dan takarannya. Allah berhak melebihkan rizki untuk seseorang dan berhak pula menguranginya dari yang lain. Semuanya itu tergantung kepada keadilan Allah dan kerja keras manusia sebagai sunatullah yang telah ditetapkan.
Namun, karena setiap rizki yang diperoleh selalu terjadi dalam ruang lingkup sosial, maka Al-Quran menentukan bahwa dalam setiap kelebihan rizki terdapat hak bagi golongan miskin, lemah dan tertinggal. Hak-hak mereka tersebut dibakukan Allah dalam konsep zakat, sedekah, dan infak.
Sebagai bahan acuan agar tidak tergelincir saat mendapatkan rizki, hendaknya manusia tidak ngoyo dengan menghalalkan segala cara. Mereka harus ingat, setiap makhluk hidup telah mendapatkan rizki masing-masing. Bila kesadaran ini telah tertanam, mereka akan mampu mengontrol sikap dan perilakunya, terutama saat menghasilkan rizki dalam dunia kerja.
Lebih dari itu, mereka pun akan selalu menjaga hak-hak Allah yang dikongkretkan dalam bentuk ritual shalat, zakat, pergi haji dan yang lainnya. Mereka menyadari, dalam setiap rizki yang diberikan terdapat dua pilihan yang mesti diambil, bersukur atau kufur.
Dengan mensyukuri nikmat, secara tidak langsung dan tanpa disadari manusia tengah berada dalam proses mendapatkan rizki yang semakin banyak. Dengan kata lain, semakin banyak manusia bersyukur, maka semakin bertambah pula rizki yang didapat. Hal itu tercermin pada kemudahan-kemudahan dalam mengembangkan usaha, mengeliminir kerugian, dan tambahan berkah pada rizki telah didapatkan.
Ketentuan demikian bukan hanya slogan semata, namun Allah telah memberikan ‘garansi’ yang tertuang jelas dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu meningkari (nikmat-Ku), maka sesungghunya azab-Ku sangat pedih“.
Namun sebaliknya, bila manusia tidak mampu bersyukur (Kufur Nikmat), maka Allah telah menyiapkan baginya siksaan yang amat pedih. Sanggupkah kita untuk menerimanya ... ???
Sumber : Khasanah Islam
Love , cinta, liebe , atau menjadi deretan huruf apa pun ia dan dalam bahasa apa pun, selalu saja indah dan asyik untuk dibicarakan. Iya nggak sih? Bo'ong banget kalo kamu sampe menggelengkan kepala. Bahkan topik inilah yang paling universal untuk dibicarakan atau pun dinikmati. Apalagi untuk para remaja di facebook, kayak nggak ada tema lain yang mendominasi pembicaraan selain love and love mulu. Iya apa iya ?Cinta emang indah dan nikmat untuk dibicarakan atau pun dirasakan. Cinta ternyata ibarat dua sisi mata pisau yang tajam. Bila tak benar menggunakannya bukan tak mungkin kita malah akan terluka karenanya. Seperti kata Kahlil Gibran neh bahwa di balik sayap indah cinta, waspadalah ada terselip sebilah pisau tajam untuk mencabikmu. Ciee ?
Ketika kita jatuh cinta, dunia terasa indah dan berbunga-bunga. Kita jadi rajin ke sekolah, rajin ke kantor, suka tersenyum, nyapa kiri-kanan, dan sebagainya. Tapi semua itu akan berubah manakala kita ngedapetin orang yang kita cintai dengan tulus, ternyata tidak membalas cintamu. Hiks ...? Langit seakan runtuh. Emang enak bertepuk sebelah tangan ? Kamu pun merasa jadi orang paling merana sedunia dan sesekali terbayang gimana caranya gantung diri di pohon tomat. Tapi apa iya sih, cinta cuma sebatas itu?
What is love?
Apa itu cinta ? Bila ada sepuluh orang bertanya seperti ini, maka akan ada sepuluh jawaban pula yang bakal disodorkan. Bahkan para filosofi dan pemikir dari jaman baheula hingga jaman naruto masih pada kebingungan untuk mendefinisikan tentang cinta. Ada yang bilang, cinta tidak untuk didefinisikan, karena it's all about feeling (duilee.. sampe segitunya) Tapi ada satu hal yang harus sama-sama kita sepakati, bahwa semua makluk hidup pasti memiliki rasa cinta. Induk ayam saja rela mengais-ngais tanah demi mendapat seekor cacing demi disuapkannya pada mulut anaknya. Belum lagi kalo kamu berusaha mendekati anak ayam yang masih imut, jangan salahkan bila kamu bakal diterjang sama induknya. Semua itu karena dorongan naluri, rasa cinta.
Apalagi yang namanya manusia, keberadaan naluri mencintai dan dicintai ini sudah built-up diberi dari sononya. Karena rasa ini adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis atau bahasa kerennya, gharizah nau' . Bisa kamu bayangkan bila seorang suami tidak mencintai istri dan anaknya, maka ia tak akan mau bersusah payah bekerja mencari nafkah. Begitu juga seorang ibu, tanpa cinta tak mau ia merasakan lelahnya mengandung sembilan bulan lamanya, sekitnya melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya, menyusui hingga dua tahun, dan mendidik serta membesarkan anak-anaknya.
Bila kita mau menoleh pada hal lain barang sejenak, akan kita dapati matahari yang bersinar tanpa syarat ke bumi, hujan pun turun untuk membasahi ladang yang gersang, dan tanah yang masih juga menumbuhkan tanaman buat manusia. Semua itu terjadi dengan begitu teratur, begitu indah, dan begitu setia. Dari siapa coba ? Tentu dari Yang Maha Memiliki Cinta itu sendiri yaitu Allah Subhanahu Wata'ala.
Perwujudan cinta
Lalu bagaimana dengan kita ? Dengan apa kita harus membalas semua rasa cinta yang pernah, sedang, dan akan terus kita rasakan hingga akhir hayat kita ? Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Kamu pasti tahu dong, beda panjang jalan dan galah. Jauh banget kan ? Kalau kasih ibu saja sepanjang itu, lalu bagaimana dengan kasih dan cinta Muhammad saw. pada umatnya ? Lalu bagaimana dengan cinta Allah SWT pada kita ? Sungguh, seandainya seluruh pohon di bumi ini dijadikan pena dan air laut sebagai tintanya tetap tak bisa melukiskan sedalam dan sejauh apa cinta Allah pada kita.
Pernahkah kita merasakan dengan sadar cinta Allah dalam setiap tarikan dan hembusan nafas ? Dalam setiap langkah yang kita buat, dalam setiap detik waktu yang terlewat, pernahkah itu kita sadari ? Semua itu ibarat matahari, yang karena terbiasanya kita dengan sinarnya kita jadi lupa pada jasanya. Bayangkan bila sedetik saja Allah menarik pasokan oksigen untuk kita hirup, makhluk seisi dunia bisa kelabakan. Tapi Allah begitu sayang dan cinta terhadap kita sehingga tak peduli orang yang durhaka terhadapNya juga diberi pasokan oksigen yang sama dengan mereka yang taat. Meski tentunya ada konsekuensi juga kan ? Mereka yang taat jelas tempatnya; surga, begitu pun dengan yang jahat sudah ditentukan tempatnya; neraka.
Pernah nggak kamu dicintai oleh orang lain yang begitu tulus mencintaimu tanpa pamrih ? Apa yang ingin kamu lakukan ? Kamu pasti berusaha membalas ketulusannya dan berusaha mencintainya dengan tulus pula. Lalu, bagaimana dengan membalas ketulusan Allah dan rasulNya yang sudah begitu mencintai kita tanpa pamrih ? Yaitu dengan berusaha menjalankan perintaNya dan menjauhi laranganNya.
BTW, kalo kamu sedang jatuh cinta, apa sih yang akan kamu lakukan demi si dia ? Kalo si dia nggak suka liat kamu pakai baju merah, pasti kamu nggak bakal pakai baju itu demi menyenangkan hatinya meski sebetulnya kamu setengah mati suka warna merah. Jika si dia suka banget makan bakso kamu pasti berusaha setengah mati bisa mentraktirnya makan bakso meski kamu lagi kanker alias kantong kering. Kenapa bisa begitu ? Karena cinta identik dengan ketaatan. Identik dengan keinginan untuk membahagiakan. Itu pulalah yang ingin kita lakukan bila ingin membalas cinta Allah dan RasulNya. Wajar dan sangat adil kan ?
Bentuk Riilnya?
Ketika kita melaksanakan sholat lima waktu dan puasa Ramadhan, artinya kita sedang melakukan sebentuk bukti riil cinta kepadaNya. Tapi itu belum cukup, karena Islam bukan hanya agama ritual saja. Ketika kamu menutup aurat, kamu melakukannya karena cinta. Ketika kita patuh dan sopan pada orang tua, sayang pada yang lebih muda, ringan tangan pada saat orang lain membutuhkanmu, bersedia mendengar keluh kesah kesedihan teman yang lagi durundung duka, itu semua juga sebagian bukti cinta.
Ketika kamu menasihati temanmu untuk tidak berpacaran dan tidak suka membolos, itu juga bukti cinta. Ketika kamu tahu menjalankan syariat Islam adalah wajib dan kamu mendakwahkannya pada yang lain, itu juga bentuk cinta. Bahkan tersenyum pun (asal bukan senyum yang TP alias tebar pesona yah) itu juga bentuk kecintaan kita pada sesama. Jangan mentang-mentang kamu udah ngaji duluan, lalu merasa sok bener sendiri tanpa mau membagi cintamu itu dengan mendakwahkannya. Emang surga milik kamu sendiri ? Nggak kan? Alangkah enaknya surga itu bila kita bisa menghuninya beramai-ramai. Bukankah kamu lebih suka rumahmu didatangi banyak temanmu daripada bengong sendirian nggak ada yang diajak ngomong. Tul nggak?
Cuekin aja kalo ada temanmu yang suka becanda bilang : Enak lho masuk neraka bisa ketemu bintang film macam Britney Spears, J-Lo, Mas Nunu alias Keanu Reeves or Brandon Lee. Anggap saja mereka adalah orang-orang yang membutuhkan sentuhan cintamu dalam bentuk dakwah, amar makruf nahi munkar . Jangan benci mereka dan jangan pula dijauhi. Sentuh akal dan perasaannya sehingga mereka dapat memperoleh hidayah.
Karena cinta
Yup, benar sekali bahwa semua kejadian di dunia ini tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta. Mulai dari nongolnya kamu di dunia ini adalah hasil pertautan cinta ibu-bapakmu sampai kamu bisa beriman dan berislam hingga hari ini juga karena cintanya Rasul terhadap umatnya, juga cinta Allah terhadap hambaNya. Cinta bukan melulu Tejo yang naksir Surti, tidak selalu sang putri yang menunggu pangeran idaman datang meminang. Tapi cinta adalah kehidupan itu sendiri.
Pernahkah kamu menikmati setiap aliran cinta yang merambati tubuhmu di saat kamu menarik nafas segar di pagi hari, merasakan sejuknya embun yang menetes di wajahmu, dan bugarnya badan untuk memulai beraktivitas? Bila belum, cobalah. Pejamkan matamu dan rilekskan pikiranmu. Maka biarkan ada yang bening mengaliri sanubarimu. Oksigen yang terhirup, embun yang lembut, sinar mentari yang hangat, tubuh yang sehat, iman yang kuat dan pikiran yang mantap, itu semua ada karena cinta.
Jadi bukan Afgan saja yang bisa menyenandungkan Karena Cinta, kita juga bisa. Karena memang setiap detil kehidupan ini terjadi, semua karena cinta. So, kamu-kamu udah pada ngeh kan, bahwa cinta bukan melulu seperti yang kamu pahami selama ini, sekadar hubungan taksir-menaksir antar lawan jenis.
Cinta ternyata bisa begitu luas dan indah. Semoga melalui tulisan ini dengan semua hal tentang cinta, bisa membuka hati dan pikiranmu tentang makna cinta itu sendiri. Sehingga kamu pun bisa melangkah dengan mantap di kehidupan dengan menaburkan sebanyak mungkin cinta kepada sesama. Bukan cinta sempit yang sulit dibedakan dengan nafsu, tapi lebih mengarahkan arti cinta kepada kebenaran itu sendiri, yakni Al-Islam. Agama yang selama ini menjadi pilihan hidup kita. Nggak berlebihan kan ? Bahkan tulisan ini pun dibuat juga karena cintaku pada kamu, sang calon pemegang tongkat estafet dakwah di masa depan. Sungguh, betapa indah dan ringan semua hal bila kita mendasarkannya karena cinta. Yakinlah





